Berita Terbaru :

22 July 2010

ITIK SERATI

Itik serati adalah hasil kawin silang antara entog jantan dengan itik betina untuk menghasilkan itik pedaging yang berkualitas tinggi. Itik serati untuk pedaging telah diproduksi secara komersial di beberapa negara Asia, akan tetapi di Indonesia itik tersebut belum berkembang secara komersial.

Akhir-akhir ini perkembangan itik pedaging di Indonesia semakin meningkat sejak peternak menggemukkan itik jantan sebagai itik pedaging dan menjualnya dengan harga baik. Saat ini banyak restoran di beberapa kota menyediakan daging itik yang telah dimasak dengan menggunakan berbagai macam bumbu. Di Kalimantan, itik afkir dimasak dan dijual sebagai itik panggang, di Jawa orang makan itik goreng dan di Bali dikenal dengan nama masakan "betutu" yaitu masakan itik dengan bumbu ditaburi jeruk limau dan dipanggang.


Itik serati yang ada di masyarakat pedesaan merupakan kawin silang antara itik jantan dengan entog betina yang kawin secara alami. Entog betina menghasilkan telur lebih sedikit daripada itik biasa. Oleh karena itu kawin silang antara entog jantan dengan itik betina dengan menggunakan program Inseminasi Buatan (IB) akan menghasilkan produksi itik serati lebih banyak dibanding kawin alam yang terjadi di pedesaan.

Akan tetapi, persilangan entog dan itik tersebut memiliki kendala yaitu rendahnya fertilitas telur. IB adalah salah satu teknologi yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan fertilitas dan daya tetas telur. Kawin silang antara entog dan itik tersebut akan menghasilkan keturunan yang mandul.

Itik serati tumbuh lebih cepat dibanding itik jantan yang digemukkan. Itik serati pada umur 8 minggu mencapai bobot badan 1,8 kg sedangkan itik jantan yang digemukkan hanya 1,3 kg atau itik serati tumbuh ½ kg lebih berat dibanding itik jantan yang digemukkan. Begitu pula penggunaan pakan itik serati jauh lebih baik dibanding itik jantan yang digemukkan. Itik serati hanya membutuhkan 3,29 kg pakan untuk menghasilkan 1 kg bobot badan dibanding itik jantan yang digemukkan membutuhkan pakan sebanyak 4,24 kg. Hasil penelitian tentang itik serati menunjukkan bahwa daging dadanya lebih banyak dibandingkan dengan daging itik biasa. Begitu pula daging itik serati dilaporkan tidak amis.


Sumber: Sinar Tani

1 comment:

  1. mudah2han kedepannya ada pendorong dari pemegang kebijakan agar bagaimana menghasilkan bibit unggas yang unggul... Salam kenal... :)

    ReplyDelete